Senin, 14 Oktober 2013

KEDELAI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
            Kedelai adalah bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe, yang mana adalah makanan tradisional rakyat Indonesia. Loyalitas rakyat Indonesia dalam mengonsumsi tempe dan tahu, membuat banyak pihak memanfaatkan kondisi ini untuk membuat produksi makanan tersebut.
Produksi tempe pun merambah banyak, hingga menjadi mata pencarian banyak penduduk di berbagai tempat. Banyaknya produksi tempe dan tahu dapat dilihat dengan didirikannya KOPTI (Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia). Karena banyaknya produksi tempe dan tahu di berbagai tempat, kenaikan harga kedelai pun sontak membuat banyak pengrajin tempe dan tahu gusar. Dikarenakan naiknya harga kedelai sebagai bahan baku utama, membuat biaya produksi meningkat, sehingga membuat produsen bingung dalam menentukan harga penjualan.
Alasan kenaikan kedelai terus ditelusuri. Dari penelusuran tersebut diketahui bahwa kenaikan harga kedelai disebabkan oleh berbagai faktor. Diantaranya disebabkan oleh kedelai impor. Selama ini produsen menggunakan kedelai impor dikarenakan minimnya produksi kedelai di Indonesia. Minimnya produksi kedelai ini dikarenakan petani beralih ke komoditas jagung. Hal ini dikarenakan harga jual jagung yang lebih menjanjikan dibandingkan kedelai. Sedangkan Amerika Serikat, sebagai penghasil kedelai terbesar di dunia dan sumber ekspor kedelai ke Indonesia, sedang mengalami penurunan produksi. Faktor-faktor tersebut membuat pemerintah mendistribusikan lahan untuk para petani.

1.2.RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang telah saya uraikan maka masalah yang akan dibahas:
1.      Alasan apa saja yang membuat naiknya kedelai impor?
2.      Apa faktor yang paling utama yang menyebabkan naiknya harga kedelai?
3.      Apa dampak yang terjadi dari naiknya harga kedelai?
4.      Apa solusi yang diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi naiknya harga kedelai?

1.3.TUJUAN PENELITIAN
            - Untuk mengetahui faktor naiknya harga kedelai
            - Untuk mengetahui dampak naiknya harga kedelai

1.4.METODE PENELITIAN
Metode yang kami gunakan adalah:
            -Deskriptif
            -Kajian pustaka dilakukan dengan mencari literatur di internet


1.5.SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
1.2.Perumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian
1.4.Metode Penelitian
1.5.Sistematika penulisan

BAB II
KERANGKA TEORI
2.1.Tanaman kedelai
2.2.Faktor penyebab minimnya produksi kedelai di Indonesia
2.3.Upaya mengatasi naiknya harga kedelai

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
3.2.Saran

BAB II
KERANGKA TEORI

2.1. Tanaman Kedelai
            Kedelai, atau kacang kedelai, adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.
Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.
            Kedelai yang dibudidayakan adalah Glycine max yang merupakan keturunan domestikasi dari spesies moyang, Glycine soja. Dengan versi ini, G. max juga dapat disebut sebagai G. soja subsp. max. Kedelai merupakan tanaman budidaya daerah Asia subtropik seperti Cina dan Jepang. Sebaran G. soja sendiri lebih luas, hingga ke kawasan Asia tropik.
Kedelai adalah tumbuhan yang peka terhadap pencahayaan. Dalam pencahayaan agak rendah batangnya akan mengalami pertumbuhan memanjang sehingga berwujud seperti tanaman merambat.
Beberapa kultivar kedelai putih budidaya di Indonesia, di antaranya adalah 'Ringgit', 'Orba', 'Lokon', 'Davros', dan 'Wilis'. 'Edamame' adalah kultivar kedelai berbiji besar berwarna hijau yang belum lama dikenal di Indonesia dan berasal dari Jepang.
            Kedelai dibudidayakan di lahan sawah maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya dilakukan pada akhir musim penghujan, setelah panen padi. Pengerjaan tanah biasanya minimal. Biji dimasukkan langsung pada lubang-lubang yang dibuat. Biasanya berjarak 20-30cm. Pemupukan dasar nitrogen dan fosfat diperlukan, namun setelah tanaman tumbuh penambahan nitrogen tidak memberikan keuntungan apa pun. Lahan yang belum pernah ditanami kedelai dianjurkan diberi "starter" bakteri pengikat nitrogen Bradyrhizobium japonicum untuk membantu pertumbuhan tanaman. Penugalan tanah dilakukan pada saat tanaman remaja (fase vegetatif awal), sekaligus sebagai pembersihan dari gulma dan tahap pemupukan fosfat kedua. Menjelang berbunga pemupukan kalium dianjurkan walaupun banyak petani yang mengabaikan untuk menghemat biaya.
           

2.2.Faktor penyebab minimnya produksi kedelai di Indonesia
            Minimnya produksi kedelai diakibatkan beberapa faktor. Salah satunya petani lebih memilih menanam padi di banding kedelai sehingga pada musim hujan tahun ini mayoritas petani menanam padi. Petani pun dinilai kurang tertarik menanam kedelai karena harga jualnya masih lebih rendah dibandingkan tanaman pangan lainnya seperti padi dan jagung. Akibatnya, kedelai kalah prioritas dari kedua komoditi pangan tersebut.
            Faktor lain yang menyebabkan produksi kedelai petani rendah adalah minimnya perhatian pemerintah terhadap produksi kedelai tanah air. Kementrian pertanian yang seharusnya membagi perhatiannya kepada seluruh jenis pertanian, terlalu fokus hanya pada satu komoditas, yakni beras, kedelai yang juga penting bagi penduduk Indonesia jadi banyak terabaikan. Dinas terkait jarang memberikan penyuluhan langsung ke petani, sehingga keluhan-keluhan yang dimiliki petani tidak bisa tersampaikan. Para petani kedelai seolah berjuang sendiri menghadapi semua persolan yang dialami terkait kedelai. Sehingga fungsi yang seharusnya berjalan antara dinas terkait dan para petani, menjadi tidak jelas dan berakibat pada tidak terselesaikannya persoalan yang ada di petani kedelai lalu berimplikasi pada minimnya produksi kedelai tanah air.
Pihaknya pun berharap pemerintah pusat menerapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk kedelai seperti padi dan jagung. Pemerintah sebenarnya telah menerbitkan harga jual pemerintah (HJP) untuk kedelai sebesar Rp7.450/kg dan harga beli petani (HBP) untuk kedelai sebesar Rp7.000/kg. Aturan itu diterbitkan pada 13 Juni lalu.
            Lebih lanjut, kedelai tergolong tanaman yang rentan diserang hama dan penyakit sejak masih bibit hingga dewasa. Organisasi Pengganggu Tanaman (OPT) yang biasa menyerang diantaranya, lalat, ulat jengkal, penggerek sedangkan penyakit yang biasa menyerang adalah mati pucuk dan karatan. Walaupun rentan, kedelai dinilai cukup cocok ditanam di Jabar terutama di daerah yang kering. Garut menjadi daerah terbesar memproduksi kedelai disusul Sukabumi, Cianjur dan Majalengka.


2.3.Upaya mengatasi naiknya harga kedelai
Lonjakan harga kedelai yang drastis ini membuat perajin tempe dan tahu menjerit. Dengan harga kedelai yang melambung, keuntungan yang mereka peroleh habis untuk menutup biaya pembelian bahan baku. Sebagian perajin menyiasati kenaikan harga ini dengan mengurangi produksi atau memperkecil volume tempe yang dijual, tapi cara ini tetap tak banyak membantu mereka menutup kerugian. Sebagian perajin lainnya memilih beralih ke kedelai berkualitas rendah demi harga yang lebih murah. Akibatnya, tempe dan tahu yang dihasilkan pun berkualitas jelek. Kenaikan harga kedelai ini adalah konsekuensi dari ketergantungan Indonesia pada kedelai impor, khususnya dari Amerika Serikat. Tahun lalu, dari sekitar 1.897.000 ton impor kedelai nasional, 1.730.000 di antaranya berasal dari AS. Kekeringan parah yang melanda separuh wilayah pertanian negeri Abang Sam itu menyebabkan turunnya produksi kedelai dari 81,25 juta ton menjadi 76,25 juta ton. Turunnya jumlah pasokan ini otomatis membuat harga meroket. Harga kedelai melonjak 25% dibanding bulan lalu. Kementerian Perdagangan mencatat kenaikan harga kedelai di dalam negeri pada Juli 2012 mencapai 2,34 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu.
            Menyikapi melonjaknya harga kedelai ini, pemerintah mengambil sejumlah langkah. Melalui rapat koordinasi pangan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Rabu (25/7) lalu, pemerintah mengambil kebijakan memfasilitasi dan memberikan keleluasaan kepada koperasi serta perajin tahu dan tempe untuk melakukan impor langsung. Pemerintah juga membebaskan bea masuk impor kedelai sebesar 5 persen hingga akhir tahun ini. Kebijakan itu diharapkan bisa mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai saat ini.
Namun sejumlah kalangan mengkritik langkah pemerintah ini sebagai solusi instan. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, misalnya, meragukan bahwa harga kedelai akan turun dengan ada kebijakan pembebasan bea masuk kedelai sebesar 5 persen. Pasalnya, kata Gita, kenaikan harga kedelai jauh di atas 5 persen. Solusi yang lebih baik, tambah Gita, adalah mengubah pola konsumsi, di samping tentunya mengusahakan peningkatan produksi kedelai nasional sebagai solusi jangka panjang.
Pemerintah melalui kementerian dan lembaga terkait harus bersinergi dalam upaya peningkatan produksi kedelai nasional. Beberapa langkah yang perlu diambil antara lain:
  1. Badan Pertanahan Nasional dan Kementerian Pertanian harus mengidentifikasi masalah rendahnya ketersediaan lahan untuk menanam kedelai dan mencari jalan keluar untuk mengadakan 1,5 juta hektar lahan yang diperlukan untuk mencapai swasembada kedelai.
  2. Lembaga riset seperti BATAN dan Kementerian Pertanian perlu duduk bersama untuk menggali hasil riset yang ada tentang kedelai dan menindaklanjutinya dengan langkah-langkah nyata seperti pembenihan.
  3. Pemerintah harus memikirkan mekanisme dan bentuk insentif yang tepat untuk petani agar mereka mau meningkatkan produksi kedelai.
Kisruh akibat kenaikan harga kedelai ini merupakan “wake up call” bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk kembali serius melakukan upaya penguatan pangan nasional. Tanpa keseriusan dan kerja sama antara pemerintah dan pihak-pihak terkait, masalah ketergantungan terhadap kedelai impor ini akan menjadi masalah yang berulang setiap tahun. Jika tidak ada upaya yang sungguh-sungguh dalam meningkatkan produksi kedelai dalam negeri, perajin tempe dan tahu akan terus tertekan, dan tempe akan semakin sulit tersaji di meja makan keluarga Indonesia.
            Pemerintah sebagai stake holder dituntut untuk mampu menyelesaikan segala persolan terkait kedela. Kinerja yang setengah hati dalam menyelesaikan persoalan harus haru dihilangkan. Kedelai sudah termasuk produk pertanian yang menyangkau hajat hidup orang banyak. Fokus dan keseriusan sangat dibutuhkan dalam menangani setiap permasalahan, contohnya seperti terkait masalah impor kedelai. Harga kedelai yang mahal di pasaran karena minimnya stok kedelai yang tersedia pasar, padahal pemerintah sudah melakukan impor kedelai dari luar negeri secara besar-besaran. Penyebabnya adalah permainan harga yang dilakukan oleh para perusahaan importir kedelai. Kedelai yang mereka impor atas seizin Kementrian Perdagangan, ternyata tidak semuanya langsung dilepas ke pasar, importir melepas kedelai ke pasar sedikit demi sedikit, sehingga mereka bisa mengendalikan harga kedelai di pasaran. Sangat besar kemungkinan adanya permainan kertel dalam tingginya harga kedelai.
Permasalahan diatas disebabkan oleh rendahnya pengawasan pemerintah terhadap alur impor kedelai, mulai dari awal proses impor sampai dilepasnya kedelai di pasar. Sehingga, meskipun kita sudah mengimpor kedelai dengan jumlah yang besar dengan tujuan agar harga kedelai bisa stabil dan terkendali tidak terpenuhi. Harga kedelai tetap tinggi di pasaran. Kita seperti perumpamaan “sudah jatuh, tertimpa tangga” karena, dengan kita melakukan impor kedelai, kita sudah mengalami banyak kerugian dan solusi impor ternya tidak menyelesaikan persoalan, dan justru menambah persoalan dan membuat kita rugi besar. Pemerintah tidak bisa mengendalikan harga, karena fungsi Bulog yang dulu sangat dominan untuk mengontriol harga kebutuhan pokok sudah tidak berfungsi. Fungsi Bulog sudah dipersempit sejak penandatanganan Indonesia dengan IMF (International Monetery Found). Perjanjian itu menuntut agar fungsi Bulog dipersempit bahkan dihilangkan dan semua proses distribusi maupun kontrol harga sepenuhnya diserahkan kepada swasta atau pasar. Bahkan yang dahulu Bulog mengurusi segala macam jenis produk pertanian, sekarang hanya fokus kepada beras, ieupun tidak maksimal dan banak kebocoran disana-sini.
            Kontrol dan pengawasan yang ketat dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam mengontrol alur jalannya kedelai impor. Longgarnya perhatian pemerintah dicurigai ditengarai karena pemerintah juga ikut menikmati aliran dana yang mengalir ke dinas dan Kementrian terkait, karena ada pihak-pihak yang diuntungkan dan ingin agar Indonesia tidak bisa lepas dari impor kedelai. Oleh karena itu, sangat ditunggu kemauan pemerintah untuk mau menyelesaikan persoalan terkait impor kedelai yang bisa dibilang tidak sehat ini.
            Perhatian pemerintah terhadap rendahnya minat petani untuk menanam kedelai juga harus diperhatikan. Meskipun pemerintah menggembor-gemborkan bahwa produksi kedelai kita rendah disebabkan oleh minimnya lahan, tetapi kalau tidak ada action atau tindakan dari pemerintah, menunjukan bahwa pemerintah kita tidak bisa menyelesaikan masalah. Jangankan menyelesaikan masalah, mengidentifikasi permasalahan yang terjadi saja tidak bisa, apalagi menyelesaikan masalah dan memberikan solusi konkrit terhadap masalah tersebut. Kekurangan lahan pertanian yang menyebabkan rendahnya produksi kedelai bisa diatasi dengan pengintensifikasian lahan melalui teknologi dan perluasan lahan kedelai di Indonesia. Amerika Serikat mengalami swasembada pangan, karena sekitar tiga belas negara bagian di Amerika Utara menjadi pusat pertanian, seperti di Maryland. Mulai dari universitas yang menyangkut masalah pertanian sampai perusahaan Multinational Corporation (MNC) berada di daerah itu. Sehingga, proses penilitian dan pengembangan produk-produk pertanian menjadi maksimal. Padahal, dahulu daerah itu hanyalah tanah tandus dan tidak cocok untuk pertanian, tetapi mampu diolah sedemikian rupa sampai seperti sekarang.
            Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga memberikan subsidi secara besar-besaran bagi petani di Amerika. Pemerintah Amerika memberikan perhatian lebih kepad para petani, dari mulai awal proses penanaman sampai pada proses panen dijamin oleh pemerintah Amerika. sehingga para petani disana kehidupanya sangat sejahtera, bayangkan, lahan seluas 50 hektar hanya diolah oleh pasangan kakek, nenek dan dibantu seorang pegawai serta sebuah traktor[4]. Hal ini menunjukkan sudah sangat baiknya sistenm pertanian di Amerika serikat. Perbandingan luas lahan yang dimiliki petani Indonesia dan Amerika sangat jauuh. karena anggaran yang digelontorkan pemerintah Amerika untuk pertanian sangat besar. Oleh karena itu, harga kedelai menjadi sangat murah ketika dilempar ke pasar luar negeri, karena sudah disubsidi oleh pemerintah Amerika. padahal Amerika dikenal sebagai negara liberal, yang menyerahkan jalannya perekonomian kepada pasar. Namun, karena pemerintah amrika sadar bahwa bidang pertanian merupakan bidang yang bagi rakyatnya maka pemerintah Amerika mengambil keputusan melakukan kontrol ketat terhadap produk pertanian mereka. Oleh karena itu, sangat bodoh jika pemerintah Indonesia tidak mau mengurusi bidang pertanian secara mandiri dan memberikan perhatian lebih kepada pertanian. Pemerintah kita memang tidak mempunyai komitmen dan kemauan untuk memajukan pertanian Indonesia apabila terus-terusan seperti ini dan tidak ada langkah real, yang diambil untuk menyelesaikan segala persoalan pertanian, bukan hanya kedelai.
            Suatu kebijakan, terutama kebijakan yang menyangkut banyak kepentingan seperti kebijakan ekonomi terkait kedelai, pasti tidak bisa lepas dari kebijakan politik pemerintah. Kita bisa lihat, bagaimana pemerintah tidak memberikan kebijakan yang pro rakyat, dalam hal ini petani. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah lebih banyak menguntungkan pihak swasta, izin impor yang dikeluarkan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan importir membuat mereka mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Dalam dua bulan, omset atau keuntungan yang bisa didapat mencapai lebih dari 1 triliun. Pendapatan sebesar itu bisa didapat karena importir membeli kedelai dengan murah, yakni sekitar Rp 5.600-Rp 6.000 per kilogram, lalu dijual sesuai dengan harga ketetapan dari pemerintah yakni Rp 8.490, dipotong biaya pengapalan dan asuransi, para importir masih mengantongi untung minimal Rp 2000 per kilogram atau Rp 1 triliun hanya dalam waktu dua bulan dan itu keuntungan minimum, karena hanya 11.900 ton kedelai yang dijual dengan harga khusus itu. Lebih dari 488.000 ton dijual dengan harga pasar yang lebih tinggi.
            Jika kita melihat kebijakan pemerintah tersebut, seperti tidak ada keberpihakan pemerintah sama sekali terhadap rakyat kecil, terutama untuk petani dan produsen tahu tempe. Tidak sulit sebenarnya bagi pemerintah kalau memang mau menyelamatkan petani kedelai, produsen tahu dan tempe serta industri berbasis kedelai di dalam negeri. Ke depan, komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti kedelai, tidak boleh diserahkan ke pasar. Pemerintah harus mengambil alih. Kewenangan Bulog untuk mengontrol harga pangan harus dikembalikan, agar tidak ada kartel yang bermain. Perluasan lahan pertanian kedelai juga sangat penting untuk meningkatkan kapasitas produksi. Terpenting dari semuanya adalah komitmen dan kemauan dari pemerintah untuk memjukan pertanian Indonesia.
            Bung Hatta pernah menulis tentang hubungan politik dan ekonomi. Politik dan ekonomi harus sejalan, secara bersama harus mendorong ke arah kemajuan. Politik berusaha untuk memperjuangkan hak-hak rakyat, kehidupan rakyat dan kemerdekaan rakyat. Ekonomi berusaha untuk memperbaiki dan menyelamatkan penghidupan rakyat, untuk melepaskan rakyat dari cengkraman asing atau tindakan kaum majikan, pendeknya memerdekakan penghidupan rakyat. Ekonomi yang tidak memakai haluan ini, akan tetapi hanya mengingat keperluan golongan atau kelas sendiri, niscaya akan patah ditengah, akan menjadi umpan kapitalisme barat. Politik jika tidak dengan tunjangan ekonomi maka tidak akan sempruna hasilnya. Demikian juga dengan ekonomi, tidak akan selamat kalau tidak ditunjang dengan pergerakan politik.


BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
            Melihat kenyataan yang ada pada uraian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa terjadinya kenaikan harga kedelai disebabkan oleh ketergantungan produksi di Indonesia pada kedelai impor, sedangkan negara pengimpor mengalami penurunan jumlah produksi yang menyebabkan kelangkaan yang diikuti naiknya harga jual. Pemerintah akhirnya ikut turun tangan dengan memberikan berbagai kebijakan untuk mengatasi hal ini.

3.2.Saran
            Setelah membaca karya tulis ini, diharapkan kita dapat lebih memahami berbagai hal penting yang menjadi konflik dalam pemerintahan negara kita. Semoga dengan memahami apa yang terjadi saat ini, sebagai generasi penerus bangsa, kita dapat mengatasinya jika hal ini terulang di masa yang akan datang.





Daftar pustaka