BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Kedelai adalah bahan baku utama
pembuatan tahu dan tempe, yang mana adalah makanan tradisional rakyat
Indonesia. Loyalitas rakyat Indonesia dalam mengonsumsi tempe dan tahu, membuat
banyak pihak memanfaatkan kondisi ini untuk membuat produksi makanan tersebut.
Produksi
tempe pun merambah banyak, hingga menjadi mata pencarian banyak penduduk di
berbagai tempat. Banyaknya produksi tempe dan tahu dapat dilihat dengan
didirikannya KOPTI (Koperasi Pengusaha Tahu Tempe Indonesia). Karena banyaknya
produksi tempe dan tahu di berbagai tempat, kenaikan harga kedelai pun sontak
membuat banyak pengrajin tempe dan tahu gusar. Dikarenakan naiknya harga
kedelai sebagai bahan baku utama, membuat biaya produksi meningkat, sehingga
membuat produsen bingung dalam menentukan harga penjualan.
Alasan
kenaikan kedelai terus ditelusuri. Dari penelusuran tersebut diketahui bahwa
kenaikan harga kedelai disebabkan oleh berbagai faktor. Diantaranya disebabkan
oleh kedelai impor. Selama ini produsen menggunakan kedelai impor dikarenakan
minimnya produksi kedelai di Indonesia. Minimnya produksi kedelai ini
dikarenakan petani beralih ke komoditas jagung. Hal ini dikarenakan harga jual
jagung yang lebih menjanjikan dibandingkan kedelai. Sedangkan Amerika Serikat,
sebagai penghasil kedelai terbesar di dunia dan sumber ekspor kedelai ke
Indonesia, sedang mengalami penurunan produksi. Faktor-faktor tersebut membuat
pemerintah mendistribusikan lahan untuk para petani.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
Dari
latar belakang yang telah saya uraikan maka masalah yang akan dibahas:
1. Alasan
apa saja yang membuat naiknya kedelai impor?
2. Apa
faktor yang paling utama yang menyebabkan naiknya harga kedelai?
3. Apa
dampak yang terjadi dari naiknya harga kedelai?
4. Apa
solusi yang diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi naiknya harga kedelai?
1.3.TUJUAN PENELITIAN
-
Untuk mengetahui faktor naiknya harga kedelai
-
Untuk mengetahui dampak naiknya harga kedelai
1.4.METODE PENELITIAN
Metode yang kami gunakan adalah:
-Deskriptif
-Kajian pustaka dilakukan dengan
mencari literatur di internet
1.5.SISTEMATIKA
PENULISAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
1.2.Perumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian
1.4.Metode Penelitian
1.5.Sistematika penulisan
1.1.Latar Belakang Masalah
1.2.Perumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian
1.4.Metode Penelitian
1.5.Sistematika penulisan
BAB II
KERANGKA
TEORI
2.1.Tanaman
kedelai
2.2.Faktor penyebab minimnya produksi kedelai di Indonesia
2.3.Upaya mengatasi naiknya harga kedelai
2.2.Faktor penyebab minimnya produksi kedelai di Indonesia
2.3.Upaya mengatasi naiknya harga kedelai
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
3.2.Saran
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1. Tanaman Kedelai
Kedelai, atau kacang kedelai, adalah
salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan dari
Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan peninggalan arkeologi,
tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur.
Kedelai
merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil
kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru
dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.
Kedelai yang dibudidayakan adalah
Glycine max yang merupakan keturunan domestikasi dari spesies moyang, Glycine
soja. Dengan versi ini, G. max juga dapat disebut sebagai G. soja subsp. max.
Kedelai merupakan tanaman budidaya daerah Asia subtropik seperti Cina dan
Jepang. Sebaran G. soja sendiri lebih luas, hingga ke kawasan Asia tropik.
Kedelai
adalah tumbuhan yang peka terhadap pencahayaan. Dalam pencahayaan agak rendah
batangnya akan mengalami pertumbuhan memanjang sehingga berwujud seperti
tanaman merambat.
Beberapa
kultivar kedelai putih budidaya di Indonesia, di antaranya adalah 'Ringgit',
'Orba', 'Lokon', 'Davros', dan 'Wilis'. 'Edamame' adalah kultivar kedelai
berbiji besar berwarna hijau yang belum lama dikenal di Indonesia dan berasal
dari Jepang.
Kedelai dibudidayakan di lahan sawah
maupun lahan kering (ladang). Penanaman biasanya dilakukan pada akhir musim
penghujan, setelah panen padi. Pengerjaan tanah biasanya minimal. Biji
dimasukkan langsung pada lubang-lubang yang dibuat. Biasanya berjarak 20-30cm.
Pemupukan dasar nitrogen dan fosfat diperlukan, namun setelah tanaman tumbuh
penambahan nitrogen tidak memberikan keuntungan apa pun. Lahan yang belum
pernah ditanami kedelai dianjurkan diberi "starter" bakteri pengikat
nitrogen Bradyrhizobium japonicum untuk membantu pertumbuhan tanaman. Penugalan
tanah dilakukan pada saat tanaman remaja (fase vegetatif awal), sekaligus
sebagai pembersihan dari gulma dan tahap pemupukan fosfat kedua. Menjelang
berbunga pemupukan kalium dianjurkan walaupun banyak petani yang mengabaikan
untuk menghemat biaya.
2.2.Faktor penyebab minimnya produksi
kedelai di Indonesia
Minimnya produksi kedelai
diakibatkan beberapa faktor. Salah satunya petani lebih memilih menanam padi di
banding kedelai sehingga pada musim hujan tahun ini mayoritas petani menanam
padi. Petani pun dinilai kurang tertarik menanam kedelai karena harga jualnya
masih lebih rendah dibandingkan tanaman pangan lainnya seperti padi dan jagung.
Akibatnya, kedelai kalah prioritas dari kedua komoditi pangan tersebut.
Faktor lain yang menyebabkan
produksi kedelai petani rendah adalah minimnya perhatian pemerintah terhadap
produksi kedelai tanah air. Kementrian pertanian yang seharusnya membagi
perhatiannya kepada seluruh jenis pertanian, terlalu fokus hanya pada satu
komoditas, yakni beras, kedelai yang juga penting bagi penduduk Indonesia jadi
banyak terabaikan. Dinas terkait jarang memberikan penyuluhan langsung ke
petani, sehingga keluhan-keluhan yang dimiliki petani tidak bisa tersampaikan.
Para petani kedelai seolah berjuang sendiri menghadapi semua persolan yang
dialami terkait kedelai. Sehingga fungsi yang seharusnya berjalan antara dinas
terkait dan para petani, menjadi tidak jelas dan berakibat pada tidak terselesaikannya
persoalan yang ada di petani kedelai lalu berimplikasi pada minimnya produksi
kedelai tanah air.
Pihaknya
pun berharap pemerintah pusat menerapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk
kedelai seperti padi dan jagung. Pemerintah sebenarnya telah menerbitkan harga
jual pemerintah (HJP) untuk kedelai sebesar Rp7.450/kg dan harga beli petani
(HBP) untuk kedelai sebesar Rp7.000/kg. Aturan itu diterbitkan pada 13 Juni
lalu.
Lebih lanjut, kedelai tergolong
tanaman yang rentan diserang hama dan penyakit sejak masih bibit hingga dewasa.
Organisasi Pengganggu Tanaman (OPT) yang biasa menyerang diantaranya, lalat,
ulat jengkal, penggerek sedangkan penyakit yang biasa menyerang adalah mati
pucuk dan karatan. Walaupun rentan, kedelai dinilai cukup cocok ditanam di
Jabar terutama di daerah yang kering. Garut menjadi daerah terbesar memproduksi
kedelai disusul Sukabumi, Cianjur dan Majalengka.
2.3.Upaya mengatasi naiknya harga
kedelai
Lonjakan
harga kedelai yang drastis ini membuat perajin tempe dan tahu menjerit. Dengan
harga kedelai yang melambung, keuntungan yang mereka peroleh habis untuk
menutup biaya pembelian bahan baku. Sebagian perajin menyiasati kenaikan harga
ini dengan mengurangi produksi atau memperkecil volume tempe yang dijual, tapi
cara ini tetap tak banyak membantu mereka menutup kerugian. Sebagian perajin
lainnya memilih beralih ke kedelai berkualitas rendah demi harga yang lebih
murah. Akibatnya, tempe dan tahu yang dihasilkan pun berkualitas jelek. Kenaikan
harga kedelai ini adalah konsekuensi dari ketergantungan Indonesia pada kedelai
impor, khususnya dari Amerika Serikat. Tahun lalu, dari sekitar 1.897.000 ton
impor kedelai nasional, 1.730.000 di antaranya berasal dari AS. Kekeringan
parah yang melanda separuh wilayah pertanian negeri Abang Sam itu menyebabkan
turunnya produksi kedelai dari 81,25 juta ton menjadi 76,25 juta ton. Turunnya
jumlah pasokan ini otomatis membuat harga meroket. Harga kedelai melonjak 25%
dibanding bulan lalu. Kementerian Perdagangan mencatat kenaikan harga kedelai
di dalam negeri pada Juli 2012 mencapai 2,34 persen dibanding bulan yang sama
tahun lalu.
Menyikapi melonjaknya harga kedelai
ini, pemerintah mengambil sejumlah langkah. Melalui rapat koordinasi pangan
yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Rabu (25/7)
lalu, pemerintah mengambil kebijakan memfasilitasi dan memberikan keleluasaan
kepada koperasi serta perajin tahu dan tempe untuk melakukan impor langsung.
Pemerintah juga membebaskan bea masuk impor kedelai sebesar 5 persen hingga
akhir tahun ini. Kebijakan itu diharapkan bisa mengatasi kelangkaan dan
kenaikan harga kedelai saat ini.
Namun
sejumlah kalangan mengkritik langkah pemerintah ini sebagai solusi instan.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, misalnya, meragukan bahwa harga kedelai akan
turun dengan ada kebijakan pembebasan bea masuk kedelai sebesar 5 persen.
Pasalnya, kata Gita, kenaikan harga kedelai jauh di atas 5 persen. Solusi yang
lebih baik, tambah Gita, adalah mengubah pola konsumsi, di samping tentunya
mengusahakan peningkatan produksi kedelai nasional sebagai solusi jangka
panjang.
Pemerintah
melalui kementerian dan lembaga terkait harus bersinergi dalam upaya
peningkatan produksi kedelai nasional. Beberapa langkah yang perlu diambil
antara lain:
- Badan Pertanahan
Nasional dan Kementerian Pertanian harus mengidentifikasi masalah rendahnya
ketersediaan lahan untuk menanam kedelai dan mencari jalan keluar untuk
mengadakan 1,5 juta hektar lahan yang diperlukan untuk mencapai swasembada
kedelai.
- Lembaga riset
seperti BATAN dan Kementerian Pertanian perlu duduk bersama untuk menggali
hasil riset yang ada tentang kedelai dan menindaklanjutinya dengan
langkah-langkah nyata seperti pembenihan.
- Pemerintah harus
memikirkan mekanisme dan bentuk insentif yang tepat untuk petani agar
mereka mau meningkatkan produksi kedelai.
Kisruh
akibat kenaikan harga kedelai ini merupakan “wake up call” bagi pemerintah dan
pihak-pihak terkait untuk kembali serius melakukan upaya penguatan pangan
nasional. Tanpa keseriusan dan kerja sama antara pemerintah dan pihak-pihak
terkait, masalah ketergantungan terhadap kedelai impor ini akan menjadi masalah
yang berulang setiap tahun. Jika tidak ada upaya yang sungguh-sungguh dalam
meningkatkan produksi kedelai dalam negeri, perajin tempe dan tahu akan terus
tertekan, dan tempe akan semakin sulit tersaji di meja makan keluarga
Indonesia.
Pemerintah sebagai stake holder
dituntut untuk mampu menyelesaikan segala persolan terkait kedela. Kinerja yang
setengah hati dalam menyelesaikan persoalan harus haru dihilangkan. Kedelai
sudah termasuk produk pertanian yang menyangkau hajat hidup orang banyak. Fokus
dan keseriusan sangat dibutuhkan dalam menangani setiap permasalahan, contohnya
seperti terkait masalah impor kedelai. Harga kedelai yang mahal di pasaran
karena minimnya stok kedelai yang tersedia pasar, padahal pemerintah sudah
melakukan impor kedelai dari luar negeri secara besar-besaran. Penyebabnya
adalah permainan harga yang dilakukan oleh para perusahaan importir kedelai.
Kedelai yang mereka impor atas seizin Kementrian Perdagangan, ternyata tidak
semuanya langsung dilepas ke pasar, importir melepas kedelai ke pasar sedikit demi
sedikit, sehingga mereka bisa mengendalikan harga kedelai di pasaran. Sangat
besar kemungkinan adanya permainan kertel dalam tingginya harga kedelai.
Permasalahan
diatas disebabkan oleh rendahnya pengawasan pemerintah terhadap alur impor
kedelai, mulai dari awal proses impor sampai dilepasnya kedelai di pasar.
Sehingga, meskipun kita sudah mengimpor kedelai dengan jumlah yang besar dengan
tujuan agar harga kedelai bisa stabil dan terkendali tidak terpenuhi. Harga
kedelai tetap tinggi di pasaran. Kita seperti perumpamaan “sudah jatuh,
tertimpa tangga” karena, dengan kita melakukan impor kedelai, kita sudah
mengalami banyak kerugian dan solusi impor ternya tidak menyelesaikan
persoalan, dan justru menambah persoalan dan membuat kita rugi besar. Pemerintah
tidak bisa mengendalikan harga, karena fungsi Bulog yang dulu sangat dominan
untuk mengontriol harga kebutuhan pokok sudah tidak berfungsi. Fungsi Bulog
sudah dipersempit sejak penandatanganan Indonesia dengan IMF (International
Monetery Found). Perjanjian itu menuntut agar fungsi Bulog dipersempit bahkan
dihilangkan dan semua proses distribusi maupun kontrol harga sepenuhnya
diserahkan kepada swasta atau pasar. Bahkan yang dahulu Bulog mengurusi segala
macam jenis produk pertanian, sekarang hanya fokus kepada beras, ieupun tidak
maksimal dan banak kebocoran disana-sini.
Kontrol dan pengawasan yang ketat
dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam mengontrol alur jalannya kedelai impor.
Longgarnya perhatian pemerintah dicurigai ditengarai karena pemerintah juga
ikut menikmati aliran dana yang mengalir ke dinas dan Kementrian terkait,
karena ada pihak-pihak yang diuntungkan dan ingin agar Indonesia tidak bisa
lepas dari impor kedelai. Oleh karena itu, sangat ditunggu kemauan pemerintah
untuk mau menyelesaikan persoalan terkait impor kedelai yang bisa dibilang
tidak sehat ini.
Perhatian pemerintah terhadap
rendahnya minat petani untuk menanam kedelai juga harus diperhatikan. Meskipun
pemerintah menggembor-gemborkan bahwa produksi kedelai kita rendah disebabkan
oleh minimnya lahan, tetapi kalau tidak ada action atau tindakan dari
pemerintah, menunjukan bahwa pemerintah kita tidak bisa menyelesaikan masalah.
Jangankan menyelesaikan masalah, mengidentifikasi permasalahan yang terjadi
saja tidak bisa, apalagi menyelesaikan masalah dan memberikan solusi konkrit
terhadap masalah tersebut. Kekurangan lahan pertanian yang menyebabkan
rendahnya produksi kedelai bisa diatasi dengan pengintensifikasian lahan
melalui teknologi dan perluasan lahan kedelai di Indonesia. Amerika Serikat
mengalami swasembada pangan, karena sekitar tiga belas negara bagian di Amerika
Utara menjadi pusat pertanian, seperti di Maryland. Mulai dari universitas yang
menyangkut masalah pertanian sampai perusahaan Multinational Corporation (MNC)
berada di daerah itu. Sehingga, proses penilitian dan pengembangan
produk-produk pertanian menjadi maksimal. Padahal, dahulu daerah itu hanyalah
tanah tandus dan tidak cocok untuk pertanian, tetapi mampu diolah sedemikian
rupa sampai seperti sekarang.
Selain itu, pemerintah Amerika
Serikat juga memberikan subsidi secara besar-besaran bagi petani di Amerika.
Pemerintah Amerika memberikan perhatian lebih kepad para petani, dari mulai
awal proses penanaman sampai pada proses panen dijamin oleh pemerintah Amerika.
sehingga para petani disana kehidupanya sangat sejahtera, bayangkan, lahan
seluas 50 hektar hanya diolah oleh pasangan kakek, nenek dan dibantu seorang
pegawai serta sebuah traktor[4]. Hal ini menunjukkan sudah sangat baiknya
sistenm pertanian di Amerika serikat. Perbandingan luas lahan yang dimiliki
petani Indonesia dan Amerika sangat jauuh. karena anggaran yang digelontorkan
pemerintah Amerika untuk pertanian sangat besar. Oleh karena itu, harga kedelai
menjadi sangat murah ketika dilempar ke pasar luar negeri, karena sudah
disubsidi oleh pemerintah Amerika. padahal Amerika dikenal sebagai negara liberal,
yang menyerahkan jalannya perekonomian kepada pasar. Namun, karena pemerintah
amrika sadar bahwa bidang pertanian merupakan bidang yang bagi rakyatnya maka
pemerintah Amerika mengambil keputusan melakukan kontrol ketat terhadap produk
pertanian mereka. Oleh karena itu, sangat bodoh jika pemerintah Indonesia tidak
mau mengurusi bidang pertanian secara mandiri dan memberikan perhatian lebih
kepada pertanian. Pemerintah kita memang tidak mempunyai komitmen dan kemauan
untuk memajukan pertanian Indonesia apabila terus-terusan seperti ini dan tidak
ada langkah real, yang diambil untuk menyelesaikan segala persoalan pertanian,
bukan hanya kedelai.
Suatu kebijakan, terutama kebijakan
yang menyangkut banyak kepentingan seperti kebijakan ekonomi terkait kedelai,
pasti tidak bisa lepas dari kebijakan politik pemerintah. Kita bisa lihat,
bagaimana pemerintah tidak memberikan kebijakan yang pro rakyat, dalam hal ini
petani. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah lebih banyak menguntungkan pihak
swasta, izin impor yang dikeluarkan pemerintah kepada perusahaan-perusahaan
importir membuat mereka mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Dalam dua
bulan, omset atau keuntungan yang bisa didapat mencapai lebih dari 1 triliun.
Pendapatan sebesar itu bisa didapat karena importir membeli kedelai dengan
murah, yakni sekitar Rp 5.600-Rp 6.000 per kilogram, lalu dijual sesuai dengan
harga ketetapan dari pemerintah yakni Rp 8.490, dipotong biaya pengapalan dan
asuransi, para importir masih mengantongi untung minimal Rp 2000 per kilogram
atau Rp 1 triliun hanya dalam waktu dua bulan dan itu keuntungan minimum,
karena hanya 11.900 ton kedelai yang dijual dengan harga khusus itu. Lebih dari
488.000 ton dijual dengan harga pasar yang lebih tinggi.
Jika kita melihat kebijakan
pemerintah tersebut, seperti tidak ada keberpihakan pemerintah sama sekali
terhadap rakyat kecil, terutama untuk petani dan produsen tahu tempe. Tidak
sulit sebenarnya bagi pemerintah kalau memang mau menyelamatkan petani kedelai,
produsen tahu dan tempe serta industri berbasis kedelai di dalam negeri. Ke
depan, komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti kedelai,
tidak boleh diserahkan ke pasar. Pemerintah harus mengambil alih. Kewenangan
Bulog untuk mengontrol harga pangan harus dikembalikan, agar tidak ada kartel
yang bermain. Perluasan lahan pertanian kedelai juga sangat penting untuk
meningkatkan kapasitas produksi. Terpenting dari semuanya adalah komitmen dan
kemauan dari pemerintah untuk memjukan pertanian Indonesia.
Bung Hatta pernah menulis tentang
hubungan politik dan ekonomi. Politik dan ekonomi harus sejalan, secara bersama
harus mendorong ke arah kemajuan. Politik berusaha untuk memperjuangkan hak-hak
rakyat, kehidupan rakyat dan kemerdekaan rakyat. Ekonomi berusaha untuk
memperbaiki dan menyelamatkan penghidupan rakyat, untuk melepaskan rakyat dari
cengkraman asing atau tindakan kaum majikan, pendeknya memerdekakan penghidupan
rakyat. Ekonomi yang tidak memakai haluan ini, akan tetapi hanya mengingat
keperluan golongan atau kelas sendiri, niscaya akan patah ditengah, akan
menjadi umpan kapitalisme barat. Politik jika tidak dengan tunjangan ekonomi
maka tidak akan sempruna hasilnya. Demikian juga dengan ekonomi, tidak akan
selamat kalau tidak ditunjang dengan pergerakan politik.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Melihat
kenyataan yang ada pada uraian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa terjadinya
kenaikan harga kedelai disebabkan oleh ketergantungan produksi di Indonesia
pada kedelai impor, sedangkan negara pengimpor mengalami penurunan jumlah
produksi yang menyebabkan kelangkaan yang diikuti naiknya harga jual. Pemerintah
akhirnya ikut turun tangan dengan memberikan berbagai kebijakan untuk mengatasi
hal ini.
3.2.Saran
Setelah membaca karya tulis ini, diharapkan
kita dapat lebih memahami berbagai hal penting yang menjadi konflik dalam
pemerintahan negara kita. Semoga dengan memahami apa yang terjadi saat ini, sebagai
generasi penerus bangsa, kita dapat mengatasinya jika hal ini terulang di masa
yang akan datang.
Daftar
pustaka










Tidak ada komentar:
Posting Komentar